Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 18 April 2015

Bimbingan dan Konseling Bagi Anak Berkebutuhan Khusus dan Berbakat

                MUHAMMAD FARHAN                  SLB 02 LENTENG AGUNG JAKARTA SELATAN      JUARA I LOMBA BLOGGER IT TAHUN 2014



Saya pun bisa ikut berprestasi seperti mereka yang normal, saya tunarungu dari SMP LB 02 Lenteng Agung Jakarta Selatan.
Cita-cita saya adalah ingin seperti mereka yang normal, berprestasi bukan sebagai siswa tuna rungu.

Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru dari SMP LB 02 Lenteng Agung, yang sudah mengajarkan saya untuk belajar di sekolah.


Ayo mengukir prestasi, lewat kreasi, tunjukan kita bisa seperti mereka

Diffable bukan cacat, kita adalah yang berbeda kemampuan.
Meskipun pada dasarnya pelayanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan itu memang untuk semua konseli, termasuk bagi konseli berkebutuhan khusus dan berbakat, namun untuk mencegah timbulnya kerancuan perlu dikeluarkan dari cakupan pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan itu. Pelayanan bimbingan yang memandirikan dalam arti menumbuhkan kecakapan hidup fungsional bagi konseli yang menyandang retardasi mental, harus dilayani oleh Pendidik yang disiapkan melalui Pendidikan Guru untuk Pendidikan Luar Biasa (PG PLB). Dengan spesifikasi wilayah pelayanan ahli konselor yang lebih cermat itu, kawasan pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan itu juga perlu ditakar secara tepat, karena untuk sebahagian sangat besar pelayanan bimbingan yang memandirikan yang dibutuhkan oleh konseli yang menyandang kekurang-sempurnaan fungsi indrawi itu juga hanya bisa dilakukan oleh Pendidik yang disiapkan melalui PG PLB dengan spesialisasi yang berbeda-beda.


Kehadiran sekolah inklusi merupakan upaya untuk menghapus batas yang selama ini muncul ditengah masyarakat, tidak hanya bagi anak normal dengan anak berkebutuhan khusus akan tetapi juga bagi kalangan mampu dan kaum dhuafa, serta perbedaan yang lainnya. Mereka (anak berkebutuhan khusus) dapat bersekolah dan mendapatkan ijazah layaknya anak normal. Hal ini seperti yang dibahas diharian suara pembaruan tanggal 28 September 2005.
 

Hasil survey menunjukkan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia meningkat dari 1 : 10.000 , kini menjadi 1 : 1500. Pada saat ini jumlah merekapun terus bertambah, dengan berbagai penyebab, baik semasa dalam kandungan ataupun masa keemasan dalam perkembangan. Menurut Susana Yuli E seorang psikolog anak, bahwa persoalan ini bukan lagi hanya bisa ditangani oleh dokter spesialis anak atau psikiater melainkan juga pihak keluarga dan lembaga-lembaga pendidikan anak autis swasta/pemerintah, seperti sekolah inklusi misalnya. Bagi orang tua yang menyadari sejak dini mereka akan memberikan penanganan sedini mungkin. Permasalahan yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini adalah pada saat mereka (anak berkebutuhan khusus) memasuki usia sekolah, kemana mereka akan menimba ilmu? Maka sekolah luar biasa (SLB) menjadi tempat alternative bagi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka dengan berkebutuhan khusus, mereka berada dalam satu lingkungan dan bergaul dengan teman-teman senasib. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mereka berhak berada di lingkungan pergaulan yang lebih normal dan riil. Hal ini karena berkaitan dengan masa depan yang akan mereka jalani, mereka tidak hanya berkumpul dengan orang-orang berkebutuhan khusus tetapi juga yang lain. Telah terbukti mereka jauh lebih mampu mengembangkan potensi, jika bergaul dengan anak-anak tanpa berkebutuhan khusus. Saat ini para orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus memperoleh angin segar dengan system sekolah baru. Sekolah inklusi, menjadi sebuah sekolah harapan untuk menumbuh kembangkan anak secara optimal, baik bagi anak dengan maupun tanpa berkebutuhan khusus.
 

Sekolah inklusi merupakan sekolah reguler yang menyatukan antara anak-anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus untuk mengikuti proses belajar mengajar bersama-sama. Sistem belajar pada sekolah inklusi tidak jauh berbeda dengan sekolah regular pada umumnya. Mereka (para siswa) berada dalam satu kelas yang idealnya dalam satu kelas terdiri dari 1- 6 anak berkebutuhan khusus dengan dua guru dan satu terapis atau shadow teacher yang bertanggung jawab di bawah koordinasi guru untuk memberi perlakuan khusus kepada anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Porsi belajar pada anak berkebutuhan khusus lebih kecil daripada yang ‘normal’. Hal ini tidak bertujuan untuk membatasi, melainkan kebutuhan untuk terapi. Pada waktu-waktu tertentu, bila perlu anak-anak tersebut akan ‘ditarik’ dari kelas reguler dan dibawa ke ruang individu untuk mendapatkan bimbingan khusus.
 

Pendidikan bukanlah sebuah rutinitas ujian demi ujian tanpa memandang perbedaan kemampuan setiap individu. Inti dari sebuah pendidikan adalah memanusiakan manusia. Demikian pula ketika anak berkebutuhan khusus dihadapkan dengan ujian sebagai hasil evaluasi. Substansi dari pendidikan adalah untuk menjadikan manusia yang seutuhnya, sehingga standart yang ditetapkan adalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki anak dan bentuk pelaporannya lebih banyak bersifat deskriptif, narasi, maupun portofolio tidak hanya tes tertulis. Demikian pula ketika menyangkut ujian kelulusan, dalam hal ini UAN, mereka perlu adanya dispensasi dengan memiliki standart khusus. Menyangkut masalah UAN ini telah disetujui oleh direktorat pembinaan sekolah luar biasa bahwa anak dengan berkebutuhan khusus tidak perlu mengikuti UAN (Julia Maria, Januari 2008).
 


Walaupun pada saat ini baru terdapat 624 sekolah Inklusi di seluruh Indonesia, dari tingkat SD hingga SMA tetapi dapat menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah biasa dengan program khusus. Artinya mereka dapat mengikuti kelas biasa, namun disisi lain merekapun harus mengikuti program khusus sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas mereka. Mereka dapat mengikuti kurikulum biasa, namun dengan penerapan yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. 

Pada tanggal 26-29 September tahun 2005 para pakar dan praktisi sekolah inklusi dari 32 negara di dunia berkumpul di Bukittinggi Sumatera Barat untuk mengikuti International Symposium on Inclusion and The Removal Of Barriers To Learning. Dalam pertemuan ini mereka saling berbagi pengalaman mengenai sekolah inklusi di Negara masing-masing. Dan semua masih dalam tahap mengembangkan sekolah inklusi ( Suara Pembaruan : 28/9/2005). 

Pendidikkan inklusi memang tengah bergerak progresif, namun masih banyak ditemukan kendala untuk melaksanakannya. Dari fasilitas yang terbatas, misalnya fasilitas program khusus, seperti ruang terapi, alat terapi, maupun sumber daya manusia yang kapabel. Sekolah inklusi adalah sebuah metamorfosa budaya manusia yang semakin moderen dan menglobal. Bahwa setiap manusia adalah sama, punya hak yang sama dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan mendapatkan pendidikan demi mengejar kehidupannya yang lebih baik.Sekolah inklusi merupakan salah satu jawaban, bahwa pendidikan tak mengenal diskriminasi, semua berhak untuk mendapatkannya. Perlu juga dilakukan edukasi kepada masyarakat tentang sekolah inklusi sehingga mereka memperoleh banyak informasi sebagai alternative pilihan untuk menyekolahkan anaknya yang kebetulan berkebutuhan khusus.
 

Meskipun demikian sampai saat ini, sekolah inklusi masih identik dengan mencampur anak berkebutuhan khusus dengan anak biasa. Padahal sekolah bisa disebut inklusi, jika kita dapat melihat anak secara individual dengan pendekatan individual, bukan klasikal. Saat ini, pendidikan kita masih melihat peserta didik dengan satu kaca mata, semua anak adalah sama. Padahal, setiap anak terlahir dengan fitrahnya masing - masing. Artinya, setiap anak harus diberi ruang dan hak untuk berkembang sesuai dengan kapasitas dan bakat yang dibawanya. Sekolah inklusipun bisa bersesuaian dengan pendekatan kecerdasan majemuk (multiple intelegences). Sebuah pendekatan pembelajaran yang sedang banyak dikembangkan pula. 

Harapanya akan banyak tumbuh sekolah inklusi tanpa harus terbebani dengan segala defenisinya. Sekolah inklusi merupakan sebuah prinsip persamaan hak manusia, dan juga jawaban dari perbedaan kita sebagai manusia. Nyatanya tak ada manusia yang sama. Karena semua warga negara mempunyai hak yang sama terhadap pendidikan, termasuk di dalamnya adalah anak berkebutuhan khusus. Demikian salah satu inti yang tercantum dalam UUD 1945.

Pasal 31. Di Muhammadiyah sendiripun sudah ada beberapa sekolah yang menerapkan system inklusi tentunya diperlukan dukungan dari semua pihak untuk mengembangkannya lebih optimal sebagai upaya memberikan solusi kepada masalah pendidikan di Indonesia. 



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - "Kecantikan itu adalah sesuatu yang berasal dari dalam, bukan apa yang tampak di permukaan."



Itulah pernyataan seorang Dian Inggrawati, gadis tuna rungu yang menggondol juara ketiga ajang Miss Deaf 2011 di Praha, Ceko, Juni-Juli lalu. Prestasi Dian langsung mendapatkan perhatian pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), setelah belakangan diketahui gadis berusia 27 tahun itu merupakan alumnus siswa SMK Santa Maria Jakarta.



Direktur Pembinaan SMK, Joko Sutrisno, Kamis (15/9), mengundang Dian bersama dengan sang ibu, Ida Hermawan, Kepala Sekolah SMK Santa Maria, Sri Purnami Mulyaningsih, dan seorang guru SMK Santa Maria, Margareta WD Utari. Di hadapan para wartawan di Gedung Kemdiknas, Dian mengungkapkan kunci kesuksesannya meraih gelar terhormat yang mengharumkan nama Indonesia tersebut.

"Saya sejak remaja memang telah memiliki ketertarikan dengan dunia desain-mendesain," tutur Dian yang mendapatkan sedikit bantuan sang ibu untuk menerjemahkan kata-katanya. Hal tersebut dibenarkan oleh Utari, yang saat SMK menjadi guru pembimbingnya di jurusan Tata Boga.

Meskipun tergolong anak yang menyandang kebutuhan khusus, hal tersebut tak menghalanginya untuk berprestasi. Terbukti sudah lebih dari 400 piala ia kumpulkan mulai dari jenjang SD hingga menyelesaikan perguruan tinggi dua tahun lalu. "Sejak jenjang sekolah dasar sampai kuliah saya memang selalu masuk ke sekolah-sekolah normal. Semoga prestasi saya ini bisa memberi semangat kepada saudara-saudara saya yang lain yang juga menyandang kebutuhan khusus," ujarnya.

Meskipun sudah dibilang meraih prestasi tertinggi, Dian tak mau berhenti sampai pada perhelatan yang telah berlangsung selama 11 tahun tersebut. Gadis tinggi semampai tersebut ingin mendorong rekan-rekannya sesama tuna rungu yang lebih muda untuk mengikuti kontes yang sama tahun depan. 

Selain itu Dian juga bermimpi kelak bisa hidup mandiri tanpa mengandalkan bantuan dari sang ibu yang tak kenal lelah. "Kelak saya ingin menjadi seorang desainer khusus tuna rungu. Saya ingin punya butik sendiri," harapnya.

Penggemar makanan Kwetiau itu juga baru-baru ini mendapatkan mandat Mendiknas untuk menyelenggarakan Kongres Tuna Rungu Se-Indonesia dalam waktu tiga bulan mendatang. "Jika acara tersebut berhasil maka Dian akan kami angkat sebagai Duta Pendidikan Inklusi," kata Joko.

Kepada Dian, Joko menjanjikan penghargaan atas kontribusi yang telah dilakukannya untuk Indonesia. Jika tidak berupa hadiah, Dian rencananya akan difasilitasi dalam mimpinya mengembangkan butik di tempat tinggalnya. "Kami akan segera mencarikan format penghargaannya. Namun kemungkinannya adalah salah satu dari dua opsi tersebut," tutur Joko.

Perjuangan Dian untuk meraih penghargaan di tingkat internasional tersebut sama sekali tidak mudah. Apalagi hidup Dian saat ini benar-benar ditopang ibunya yang hanya bekerja sebagai penjual kue. Sang ayah sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.

Selepas menamatkan kuliahnya di Universitas Persada Indonesia 2009 lalu, Dian sehari-hari aktif di Yayasan Sehat Jiwa Raga (Sehjira) dimana ia tidak mendapatkan gaji dari yayasan tuna rungu tersebut. Namun tak dinyana, peruntungannya datang dari yayasan yang telah berdiri sejak 2001 tersebut.

Berawal dari informasi akan adanya kontes Miss Deaf 2011 dari Yayasan Sehjira, Dian langsung mengumpulkan segala persyaratan yang dibutuhkan. Keberangkatannya ke Praha 30 Juni lalu pun benar-benar mengandalkan biaya sendiri karena ia hanya memperoleh sponsor berupa busana dari salah seorang saudaranya yang memiliki butik.

Keberangkatannya ke Praha pun harus menemui kendala sulitnya visa ke negara pecahan Cekoslowakia tersebut. Sang ibu bahkan harus menginap dua hari dua malam di Kedutaan Besar Ceko demi mendapatkan izin tinggal untuk anak pertamanya tersebut.

Cerita berakhir dengan manis setelah Dian berhasil menempati urutan ketiga dalam kontes tersebut. Ia berada di belakang kontestan asal Italia, Ilaria Galbusera, yang menempati posisi pertama dan kontestan asal Rusia, Elena Korchagina, yang menempati posisi runner-up. Prestasi yang layak dibanggakan karena ia berhasil mengalahkan 35 kontestan lain untuk menduduki peringkat ketiga.

Prestasi yang diperoleh Dian mengajarkan dua hal. Pertama, tiap anak—termasuk anak-anak penyandang kebutuhan khusus—berhak memperjuangkan mimpinya. Sama seperti anak-anak normal, Dian juga berhak melakukan hal yang disukainya. "Deaf? No Problem!" seru Dian menirukan slogan yang dibawakannya di Ceko.

Melukis Tergantung Suasana Hati, Ingin Menjadi Pembalap Motor Cross
Keterbatasan berbicara dan mendengar tidak membuat Indra minder dan tidak berpretasi. Ia pernah juara nasional melukis yang diadakan Departemen Pendidikan RI.

MUKHLASHYIN
Gerimis menguyur Kota Batu pada Jumat (30/1) pukul 10.00. Hujan rintik itu juga membasahi halaman Sekolah Luas Biasa (SLB) Eka Mandiri di Jalan Terusan Kasiman Kelurahan Ngaglik Kecamatan Batu.
Selama 30 menit kemudian, pada lantai dua gedung SLB, murid-murid berhamburan keluar dari ruang kelas. Jam pelajaran telah usai. Di antara para siswa itu, ada Indra Krisfilla, salah satu anak berprestasi di SLB tersebut.
Indra, begitu ia akrab disapa, berasal dari Dusun Durek RT 03 RW 02 Desa Giripurno Kecamatan Bumiaji. Indra berbakat menggambar. Ia pernah meraih juara pertama dalam ajang lomba melukis tingkat nasional yang diselenggarakan Bidang Pendidikan Khusus – Layanan Khusus (PK-LK) Departemen Pendidikan RI pada 1 sampai 5 Juni 2014 lalu.
Dia mengharumkan nama Kota Batu sekaligus mewakili Provinsi Jawa Timur dalam ajang lomba melukis tersebut. Kala itu, dia didampingi oleh guru kelasnya yang bernama Muliah. ketika mengikuti lomba, ia masih duduk di bangku kelas empat.
Indra yang sekarang duduk di kelas lima ini mengaku senang bisa menyingkirkan perwakilan dari 33 provinsi di seluruh Indonesia. Diakui Indra, dia membuat lukisan dengan judul Menyelamatkan Bumi. Judul itu ia pilih karena menurut Indra, bumi memerlukan orang-orang yang menjadi penyelamat dari kerusakan.
”Saat itu saya gores apa adanya, kok saya yang menang,” kata Indra yang didampingi Adi Indra Prasetyo, S Pd, guru SLB yang menerjemahkan setiap kata yang diutarakan Indra mengunakan bahasa isyarat.
Indra menyukai dunia melukis sejak ia masih duduk di bangku kelas satu SD SLB Eka Mandiri. Ia juga sering berlatih. Saat dia pulang sekolah, tidak jarang dia didampingi ibunya, Sri Rahayu mengambar di sebuah kertas gambar dan kertas folio. Ia menggunakan crayon.

Remaja berusia 16 tahun ini sering mengambar apa adanya di rumah. Seperti mengambar mobil, kuda, dan matahari.
Indra juga terus terpacu untuk mengambar dan melukis objek lainnya. Apalagi di sekolahnya ada penjurusan minat dan bakat menggambar dan melukis. Pelatihan diberikan sekolahnya setiap hari Sabtu.
”Sekarang tidak setiap hari menggambar. Tergantung suasana hati. Sebab saya masih suka main,” kata Indra.
Saat mengikuti lomba melukis, dia mengaku tidak ada sedikitpun rasa grogi. Dikarenakan Indra sering mengikuti ajang perlombaan. Seperti lomba di sekolah, lomba tingkat kecamatan serta lomba tingkat provinsi.
Disinggung apa cita-citanya, Indra mengatakan ingin menjadi peternak kambing etawa. Sebab di kampungnya banyak warga yang mulai memelihara kambing etawa. Apalagi hadiah dari setiap kali menang lomba menggambar dan melukis, oleh ayahnya Su’i dibelikan kambing etawa.
Selain beternak kambing etawa di kampungnya, Indra mengaku ingin menjadi seorang pembalap motor cross. Dari keinginan itu, ia sedang menabung untuk membeli kendaraan roda dua sejenis trail. Dia ingin menyalurkan bakat menjadi pembalap motor cross jika besar nanti. Indra bahkan ingin mengikuti perlombaan motor cross.

”Saya terkadang jual susu kambing etawa. Uangnya saya tabung untuk beli kendaraan trail untuk balapan,” cetus Indra bersemangat. (*/yos)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Sistem Pendidikan Nasional membuka jalan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layak. Pendidikan inklusi secara khusus diartikan sebagai sebuah upaya penyelenggaraan  pendidikan yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus dan anak normal untuk belajar. Dengan adanya pendidikan inklusif artinya sekolah tersebut harus mampu mengakomodasi setiap anak tanpa kecuali, baik secara fisik, intelektual, emosional, sosial, bahasa, budaya, etnis, minoritas dan berbagai hal lainnya. Penyelenggaraan mengenai pendidikan inklusi secara lebih jauh terjamin dan diatur dalam Permendiknas Nomor 70 tahun 2009.


Di Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan teritori yang telah menyadari pentingnya penyelenggaraan sekolah Inklusi. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Peraturan Gubernur Nomor 21 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif. Dalam pendidikan inklusi terdapat guru pembimbing khusus yang diharapkan berkompetensi untuk mendampingi dan membimbing anak berkebutuhan khusus untuk dapat lebih baik. Pelaksanaan pendidikan inklusif tidak terlepas dari partisipasi keseluruhan  tenaga pengajar yang ada di sekolah. Bahkan di Yogyakarta setiap satuan pendidikan (sekolah) diwajibkan untuk memberikan fasilitas bagi anak berkebutuhan khusus. Sebelumnya menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, sekolah inklusi yang ada hanya berkisar antara 22 sekolah dari total  520 sekolah jenjang SD hingga SMA[1]. Dengan adanya Peraturan Gubernur tersebut maka peluang anak berkebutuhan khusus untuk dapat menimba ilmu di bangku sekolah semakin besar.
Penyelenggaraan sekolah inklusi bukanlah sebuah kebijakan yang asal-asalan. Secara lebih jauh sekolah inklusi mengemban tugas penting dalam usaha mencerdaskan siswa dan siswinya[2]. Sekolah hendaknya mampu mengubah sikap dari semua elemen sekolah termasuk siswa, guru, dan orang tua. Selain itu perlu adanya pengawasan untuk memastikan bahwa anak berkebutuhan khusus dapat mengakses pelajaran yang diberikan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai kurikulum yang digunakan dalam sistem pembelajaran. Kurikulum tersebut sebaiknya mampu memperbaiki pencapaian atau prestasi akademik anak disemua level. Selain itu dukungan dari warga sekolah juga diperlukan untuk menciptakan iklim positif dalam sekolah inklusi.

Adanya sekolah inklusi membawa peran penting bagi anak berkebutuhan khusus. Menurut Skjorten, interaksi yang terjalin dalam lingkup sekolah akan  meningkatkan kemampuan sosio-emosional mereka secara gradual. Manfaat dari sekolah inklusi tidak hanya dirasakan oleh anak berkebutuhan khusus, namun juga oleh anak-anak normal yang berada di sekolah tersebut[3]. Anak-anak normal dapat mengembangkan kemampuan empati mereka, kemampuan bekerja sama, dan lebih  bijak dalam menerima keadaan teman. Secara umum sekolah inklusi mampu memberi kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat mengembangkan diri mereka. Dengan hal tersebut maka anak berkebutuhan khusus tak lagi termarginalkan.
Smun, Miss Dian Inggrawati Miss deaf Indonesia sudah terobsesi lahirnya TV mOdis, walaupun hasil komunilasi liwat  BB

Oleh Havid Hermanu

TV mOdis, Miss Dian Inggrawati Miss deaf Indonesia sudah terobsesi lahirnya TV mOdis dengan konten Smun. Untuk itu presentasi dan konsep besarnya sudah menunggu investor.
Smun,bahan baku unik, untuk penca¹) Membangun Imperiumnya

Menuju Penca Mandiri Yang Menyongsong Globalisasi.

Banyak disabilitas atau penca hidup bahagia berkelim pahan dengan smunnya, seperti Nick Vujisic yang tidak punya tangan dan kaki, Sayang Petrus Bangun (40) dengan Smunnya melukis dengan mulutnya harganya milyard. Albertha Aceng dengan smunnya liwat kepiawaiannya main gitar dengan kaki.

Jepang bangkit setelah bom di hirosima bukan karena sumber alamnya tetapidengan ganbatte ganbarre ganbarru yang selalu dipekikkan jika saling bertemu kaumnya, Ari Gynanjar bangkit dengan ESQ Way, Aa Gym bangkit dengan Manajemen Qolbu dan Darutttohitnya, padang tandus di Mekah bangkit dengan nilai spirit dengan Kabahnya. Disabilitas akan bangkitkan Imperium dengan konten Smun
Smun, Miss Dian Inggrawati Miss deaf Indonesia sudah terobsesi lahirnya TV mOdis

Oleh Havid Hermanu

TV mOdis, Miss Dian Inggrawati Miss deaf Indonesia sudah terobsesi lahirnya TV mOdis dengan konten Smun. Untuk itu presentasi dan konsep besarnya sudah menunggu investor.
Bahan Baku Unik, Untuk Penca¹) Membangun Imperiumnya

Menuju Penca Mandiri Yang Menyongsong Globalisasi.

Banyak disabilitas atau penca hidup bahagia berkelim pahan dengan smunnya, seperti Nick Vujisic yang tidak punya tangan dan kaki, Sayang Petrus Bangun (40) dengan Smunnya melukis dengan mulutnya harganya milyard. Albertha Aceng dengan smunnya liwat kepiawaiannya main gitar dengan kaki.

Jepang bangkit setelah bom di hirosima bukan karena sumber alamnya tetapidengan ganbatte ganbarre ganbarru yang selalu dipekikkan jika saling bertemu kaumnya, Ari Gynanjar bangkit dengan ESQ Way, Aa Gym bangkit dengan Manajemen Qolbu dan Darutttohitnya, padang tandus di Mekah bangkit dengan nilai spirit dengan Kabahnya. Disabilitas akan bangkitkan Imperiumnya dengan Smun
nya dengan Smun
Indafo (Identifikasi natural dari fakta original)

Smun bahan baku unik, untuk penca membangun Imperiumnya menuju penca

mandiri yang menyongsong globalisasi.

Hal prinsip yang mendasar sebagai fakta yang natural dan original yang dapat tercatat dari ungkapan subyektif dan obyektif yaitu ada Empat hal yang disebut sebagai Smun, Nilai, Sikap, Motivasi, Upaya, baik secara pribadi maupun secara kolektif. Bahkan secara universal hal ini juga berlaku, tidak hanya untuk penca tetapi untuk semua.

Namun Smun punya nilai lain / unik jika pelakunya penca. Hal ini terangkat dari reportase Susi Ivvaty dengan ketua PPCI Siswadi yang ditulis di Kompas tahun 2002. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0206/19/naper/mema12.htm

“Kalau orang lain bisa dan saya tidak bisa, itu wajar. Kalau orang lain bisa dan saya juga bisa, itu satu kelebihan. Yang lebih baik lagi jika orang lain tidak bisa tetapi saya bisa”. (kata Siswadi)
Ungkapan ini menjadi inspirasi titik tolak paham untuk mengali potensi penca dengan segala keterbatasannya untuk mengembangkan kemandirian penca, bahkan sangat universal , untuk semua.

Dengan demikian penca bukan hanya sebagai obyek, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai subyek yang universal untuk menstimulir nilai, sikap, motivasi dan upaya untuk semua orang.

SMUN juga dapat merupakan wilayah yang sama dapat dijangkau orang penca atau orang tidak cacat.

Dengan fenomena ini penca dapat menjadi sebagai pelaku , sebagai narasumber bahkan sebagai motivator unggul lewat SMUN termasuk orang tuanya, kakak/ adiknya atau suami/istrinya.

”Perlu dicatat penca adalah barisan pertama atau juru kunci dan ahli Smun yang secara alami mengenal perlunya kesabaran , mengenal perlunya ikhlas,mengenal perlunya bersyukur dan banyak lagi berhubungan dengan Smun” (H.M)
Ada banyak misteri pesan yang melekat pada penca yang perlu ”dibaca” untuk setiap umat yang mencari hikmah dalam berusaha yang terkadang mendapat kesulitan, menghadapi rintangan , penderitaan., ketidak sabaran, kegelisahan.
Smun dapat digali menjadi bahan yang sangat potensial dan tidak ada habisnya , serta diperlukan semua orang banyak sepanjang jaman.

Tidak ada ”pabrik” Smun baik didalam negri bahkan diluar negri yang sedahsyat kalu dilakukan oleh penca atau disabilitas.

Potensi ini menjadi bahan yang diperlukan dan dapat menjadi bahan dasar yang dapat menumbuhkan industri multimedia, cetak, film, cyber, tv bahkan Institut serta Imperium penca terbesar yang mengglobal.Tidak mustahil.Subhanallah. Allahu Alam,
Penca hadir menjadi bagian ”alat” Allah SWT untuk cermin kesadaran manusia bahwa masih banyaknya karuniaNya yang masih tak terhitung yang perlu di syukuri (H.M)
Cermati Jepang lebih maju bukan karena luas negaranya atau kekayaan alamnya seperti di Indonesia. Berarti ada faktor lain yang membuat negaranya begitu maju.

Singapura bisa jadi negara makmur dengan wilayahnya yang kecil, karena dukungan prasarana perdagangannya yang hebat berkat perencanaan pelabuhannya yang strategis dan dalam sehingga dapat ditambatkan kapal-kapal besar.

Arab Saudi , padang pasir, gurun sahara , Mekah, Madinah menjadi daerah maju yang serba ada juga dari nilai lain bukan kesuburan dan keramahan alamnya.
Di Indonesia ada Imperium yang sedang dibangun Ginanjar dengan wadah Grah 149 yang sudah TBK , dibangun lewat ESQnya yang tersohor itu sedang membangun kantornya 16 lantai di Jl S.Parman Jakarta Selatan .

PPCI dengan segenap akses dan banyaknya pihak terkait yang mendukung akan membangun Imperium lewat Smun , Imperium yang boleh jadi bisa lebih besar karena dapat menjangkau lintas negara, paham dan agama, etnik, dengan jejaring nilai konsep bisnis serta multi industri, multi ahli dan profesi dan industri dibelakangnya. Karena penca sangat luas,universal bahkan hingga dunia hewan dan jasad renik .

Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta berhasil meraih juara kedua dalam lomba MITI PAPER CHALLENGE (MPC) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) pada tanggal 8 Maret 2014. Tim UKM Penelitian UNY yang terdiri dari Erbi Bunyanuddin (FIP/PLB), Rizki Junianto (FT/Elektro), dan Muhammad Nur Huda (FT/Elektro), mengangkat karya mengenai Portable Speech Trainer Mirror untuk anak tunarungu agar mampu meningkatkan kemampuan bahasa mimik mereka. “Media yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak tunarungu masihlah minim, untuk itu kami berusaha untuk membuat media yang dapat memudahkan anak tunarungu berlatih berkomunikasi,” ujar Erbi.
Miti Paper Challenge merupakan ajang bergengsi bagi mahsiswa Indonesia. Ajang ini mengangkat tema “Inovasi IPTEK dalam pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal sebagai basis ekonomi kerakyatan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia”. Tema ini mengacu pada potensi alam Indonesia yang sangat besar untuk dikembangkan di tengah derasnya globalisasi. Potensi yang besar ini belumlah digarap serius, untuk itu dengan adanya lomba ini diharapkan potensi yang belum muncul atau belum terpublis dapat dikembangkan dan menjadi andalan bangsa Indonesia dalam meningkatkan kemampuan ekonomi.
Lomba ini memiliki persaingan yang sangat ketat. Dari 145 proposal karya yang mayoritas dari universitas-universitas favorit Indonesia hanya 10 finalis yang berhak untuk maju dalam tahap berikutnya yaitu tahap presentasi. Dan akhirnya tim UKM Penelitian UNY mampu menjadi juara ke-2. Miti Paper Challenge merupakan serangkaian acara dari Gebyar Inovasi Mahasiswa Indonesia (GIPI) yang diselenggarakan di gedung Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, pada tanggal 8—9 Maret 2014. (erbi)
TEGAL, KOMPAS.com — Petenis Korea Selatan, Duck Hee Lee (ATP 470), memenangi gelar juara tunggal Indonesia Men’s Future Walikota Tegal Open 2015, Minggu (12/4/2015).


Pada laga final yang berlangsung di lapangan tenis GOR Wisanggeni Kota Tegal, unggulan keempat itu menumbangkan unggulan kedua asal Jepang, Shuichi Sekiguchi (396), 6-1, 3-0 ret(retired, lawan memutuskan mundur).

          

"Saya gembira hari ini karena bisa meraih gelar juara di Tegal. Saya telah menampilkan permainan terbaik, tetapi sayangnya Sekiguchi sedang memiliki permasalahan dengan kondisi badannya," tutur Lee, yang terlahir tunarungu di Chungcheong pada 29 Mei 1998 ini, seusai kejuaraan dalam rangka ulang tahun ke-435 Kota Tegal, Jawa Tengah, ini.

          

Sebagai juara, Lee yang kini berada di peringkat ketujuh yunior dunia berhak mendapatkan hadiah sebesar 1.440 dollar AS atau sekitar Rp 19 juta. Sebagaimana petenis lainnya, dia akan melanjutkan kiprahnya menuju seri penutup Indonesia Men’s Future di Jakarta, 13-19 Mei. "Saya berharap bisa kembali meraih gelar juara," kata Lee yang telah mengantongi tiga gelar juara tunggal turnamen ITF Pro Circuit kategori Men’s Future.



Sementara itu, sebagai rangkaian akhir turnamen yang digelar PP Pelti, Indonesia PGN Men’s Futures 2015 telah memainkan babak kualifikasi mulai Minggu (12/4/2015) di lapangan tenis Elite Club Epicentrum, kawasan Rasuna, Jakarta. Babak utama bakal berlangsung sejak Selasa (14/4/2015).



Dua petenis anggota pelatnas SEA Games 2015, Christopher Rungkat dan David Agung Susanto, melenggang langsung ke babak utama berkat peringkat dunia yang dimilikinya. Sementara itu, dua petenis nasional lainnya, Aditya Hari Sasongko dan Sunu Wahyu Trijati, harus menggunakan fasilitas wild card.

Bahasa Isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi manualbahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara, untuk berkomunikasi. Kaum tunarungu adalah kelompok utama yang menggunakan bahasa ini, biasanya dengan mengkombinasikan bentuk tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan, dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkanpikiran mereka.
Bertentangan dengan pendapat banyak orang, pada kenyataannya belum ada bahasa isyarat internasional yang sukses diterapkan. Bahasa isyarat unik dalam jenisnya di setiap negara. Bahasa isyarat bisa saja berbeda di negara-negara yang berbahasa sama. Contohnya, Amerika Serikat dan Inggris meskipun memiliki bahasa tertulis yang sama, memiliki bahasa isyarat yang sama sekali berbeda (American Sign Language dan British Sign Language). Hal yang sebaliknya juga berlaku. Ada negara-negara yang memiliki bahasa tertulis yang berbeda (contoh: Inggris dengan Spanyol), namun menggunakan bahasa isyarat yang sama.
Untuk Indonesia, sistem yang sekarang umum digunakan ada dua sistem adalah BISINDO (Berkenalan Dengan Sistem Isyarat Indonesia) yang dikembangkan oleh Tuna rungu sendiri melalui GERKATIN (Gerakan Kesejahteraan Tuna rungu Indonesia) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) hasil rekayasa orang normal bukan hasil dari Tuna rungu sendiri yang sama dengan bahasa isyarat America (ASL - American Sign Language). Jadi saya sarankan memakai sistem isyarat buatan tuna rungu sendiri adalah BISINDO
Cita-cita menjadi wakil rakyat di Senayan sekarang bisa terbuka bagi siapa saja di Indonesia setelah pemerintahan kita mengadopsi sistem bikameral, sistem 2 kamar,dengan keterwakilan individu yang lepas dari wakil Partai seperti layaknya anggota DPR. Meskipun begitu sebagai calon anggota senator ,kepopuleran tetap memegang peranan penting untuk mendapatkan suara di Provinsi dimana dia bertarung.Tulisan ini saya dasarkan pada pengalaman teman saya ketika mencoba peruntungannya dengan maju menjadi calon anggota DPD mewakili Provinsi DKItahun 2009 kemarin. Hanya saja karena tingkat kepopuleran dan modal yang minim akhirnya temanku kalah suara.
Pertanyaan paling dasar sebelum maju haruslah didasarkan wilayah administrasi dimana kita mencalonkan diri.Taruhlah misalnya saya maju dari Provinsi DKI Jakartayang terbagi menjadi 6 wilayah administratif. Dari 6 wilayah tersebut bagaimanakah tingkat kepopuleran calon senator dimata konsituen? Apalagi Provinsi DKI Jakarta sebagai ibukota negara,meskipun secara wilayah geografi lebih kecil dibanding provinsi lain tetapi pertarungan politik nasional benar-benar diuji di Jakarta.Dan alat kampanye apa yang akan saya gunakan agar saya bisa memperoleh suara yang cukup agar bisa menjadi anggota DPD RI mewakili Provinsi DKI Jakarta.
Gambar.1 Jembatan Penyeberangan Busway di DKI Jakarta dirancang  untuk kaum difabel pengguna kursi roda.
Bila saya terpilih menjadi senator menggantikan anggota DPD RI 2019-2014, maka saya akan menggalang dukungan dari kaum disabilitas bahwa,sudah saatnya kaumdifabel dihargai hak-haknya, tidak seperti gambar 1 diatas,sebuah tempat layanan umum yang seharusnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan kaum difabel yang terpaksa menggunakan kursi roda,dalam kenyataannya jembatan tersebut disalahgunakan untuk penyeberangan sepeda motor.
Sudah seharusnya DPD sebagai lembaga tinggi negara kedepannya mau membuka pintu bagi keterwakilan dari kaum difabel itu sendiri, seperti Parlemen di Eropayang dengan rendah hati mau memberikan kursi parlemen bagi kaumtunarungu.Simak video berikut.

Anggota Parlemen Uni Eropa dari negara Hongaria MEP Ádám Kósa.
Tidak hanya demi memenuhi kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen, sudah saatnya parlemen dalam hal ini DPD RI  juga mulai mau membuka pintunya bagi suara-suara kaum disabilitas agar masalah diskriminasi terhadap orang-orangdifabel bisa dikurangi. Salah satu contoh kampanye gerakan #pitabiru di jejaring sosial untuk kepedulian terhadap penyandang disabilitas yang dipelopori  Angkie Yudistia.

Gambar 2.Angkie Yudistia dan Cover Bukunya "Perempuan Tunarungu tanpa Batas" yang baru-baru ini diluncurkan di Ciputra World Marketing Gallery, Jakarta, Selasa (20/12/2011) lalu
Gerakan Sosial #PitaBiru yang dipelopori Angkie Yudistia bila tanpa diwakili suaranya di DPD RI niscaya gaungya tidak akan membesar dan menjadi kepedulian bagi semua pihak di Indonesia, bahwa masih banyak kehidupan diskriminasi yang dialami oleh kaum difabel di Indonesia.
Sudah saatnya parlemen Indonesia ,baik itu DPR RI,DPD RI dan MPR RI mau memberikan kursinya  pada orang-orang difabel yang memiliki kebutuhan khusus sehingga pembangunan di negara kita semakin peduli terhadap penyandang disabilitas. Sehingga misi pemberdayaan teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia bisa lebih bergema keseluruh wilayah Indonesia.

Dan saya lebih senang bila  suatu saat, ada orang seperti Angkie Yudistia duduk di parlemen mewakili suara, orang-orang berkebutuhan khusus di Indonesia. Andai hal itu bisa terjadi negara kita,bukan karena lomba Blog dan Twit Andai Saya menjadi anggota DPD RImaka Indonesia adalah negara ASEAN pertama yang memiliki  senator  dari kaum difabel.Penyandang disabilitas rungu wicara sebagai warga negara mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara yang lainnya dalam memperoleh tingkat kesejahteraan sosial dalam segala aspek kehidupan dan penghidupannya. Pada hakikatnya mereka memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk mengatasi hambatan agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya. 
Berkenaan dengan itu, pemerintah dalam hal ini PSBRW “Melati” Bambu Apus Jakarta Timur melaksanakan upaya mengembangkan potensi yang dimiliki para penyandang disabilitas rungu wicara (anak binaan/penerima manfaat) agar dapat hidup produktif dan dapat mengembangkan fungsi sosialnya, yaitu berkarya dan berprestasi, karena dibalik kekurangan mereka memiliki suatu kelebihan.
Penerima manfaat PSBRW “Melati” Bambu Apus telah menorehkan tinta emas dengan menjuarai renang dan bola voli  pelajar berkebutuhan khusus se- DKI Jakarta 2013 diselenggarakan oleh Dinas Olah Raga dan Pemuda Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Lomba renang dilaksanakan pada tanggal 28 s/d 30 Oktober 2013 bertempat Di Kolam Renang Gelanggang Remaja Kota Administrasi Jakarta Timur.  Adapun anak-anak binaan/ Penerima Manfaat di PSBRW “ Melati” Jakarta  yang mendapatkan Juara :
1.     Sahat Martua S  :     Juara I Gaya Bebas 100 m Kelompok Umum, Juara I Gaya Dada 50 m Kelompok Umum
2.     Antonius Ronald Wayai :  Juara I Gaya Bebas 100 m Kelompok Umum, Juara II Gaya Dada 50 m Kelompok Umum
3.     Adityanugraha  :   Juara I Gaya Bebas 100 m kelompo umum, Juara II Gaya Bebas 50 m Kelompok Umum
Sedangkan untuk lomba bola voli dilaksanakan pada tanggal 6 s/d 9 Nopember 2013 dalam rangka Kejuaraan Bola Voli Tuna Rungu Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013 bertempat di Gelanggang Remaja Jakarta Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Olah Raga dan Pemuda Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Anak-anak binaan/ Penerima Manfaat di PSBRW “ Melati” Jakarta mendapat  
Juara I Putra dengan Tim yang terdiri dari : Nasrudin, Angga Saputra, Alamsyah, Dwi Septi Nugroho, Sahat Martua S, Adityanugraha, Antonius Ronald Wayoi, Ade Irawan, Hary Ramadan dan M. Saifullah Azis.
Kejuaraan Bola Voli diatas diikuti oleh:
1.    NPC Provinsi DKI Jakarta.                        6.   PSBRW. Melati Bambu Apus Jakarta
2.    Porturin Provinsi DKI Jakarta                     7.   SLB Santi Rama
3.    Porturin 5 wilayah Provinsi DKI Jakarta       8.   SLB Pangudi Luhur Jakarta
4.    Gerkatin 5 wilayah Provinsi DKI Jakarta      9.   IKALA
5.    Sehjira Provinsi DKI Jakarta.                     10. IKAZIA
 
Sebagai Pelatih, Pembimbing, Pengajar, Pendamping, Pengasuh, Orang tua dan Wali merasa bangga akan keberhasilan anak-anaknya mencapai suatu prestasi yang gemilang. Jangan menyerah anak-anak ku berjuang dan kerja keras lah untuk menggapai prestasi dan cita-cita mu.
Semoga kalian lebih sukses dan mandiri amin……….
*) Staf Rehsos PSBRW Melati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar