MUHAMMAD
FARHAN SLB 02 LENTENG AGUNG JAKARTA SELATAN JUARA I LOMBA BLOGGER IT TAHUN 2014
Saya pun bisa ikut berprestasi seperti mereka yang normal,
saya tunarungu dari SMP LB 02 Lenteng Agung Jakarta Selatan.
Cita-cita saya adalah ingin seperti mereka yang normal,
berprestasi bukan sebagai siswa tuna rungu.
Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru dari SMP LB 02 Lenteng Agung, yang sudah mengajarkan saya untuk belajar di sekolah.
Ayo mengukir prestasi, lewat kreasi, tunjukan kita bisa
seperti mereka
Diffable bukan cacat,
kita adalah yang berbeda kemampuan.
Meskipun pada dasarnya pelayanan Bimbingan dan
Konseling yang memandirikan itu memang untuk semua konseli, termasuk bagi
konseli berkebutuhan khusus dan berbakat, namun untuk mencegah timbulnya
kerancuan perlu dikeluarkan dari cakupan pelayanan ahli bimbingan dan konseling
yang memandirikan itu. Pelayanan bimbingan yang memandirikan dalam arti
menumbuhkan kecakapan hidup fungsional bagi konseli yang menyandang retardasi
mental, harus dilayani oleh Pendidik yang disiapkan melalui Pendidikan Guru
untuk Pendidikan Luar Biasa (PG PLB). Dengan spesifikasi wilayah pelayanan ahli
konselor yang lebih cermat itu, kawasan pelayanan ahli bimbingan dan konseling
yang memandirikan itu juga perlu ditakar secara tepat, karena untuk sebahagian
sangat besar pelayanan bimbingan yang memandirikan yang dibutuhkan oleh konseli
yang menyandang kekurang-sempurnaan fungsi indrawi itu juga hanya bisa
dilakukan oleh Pendidik yang disiapkan melalui PG PLB dengan spesialisasi yang
berbeda-beda.
Kehadiran sekolah inklusi merupakan upaya untuk
menghapus batas yang selama ini muncul ditengah masyarakat, tidak hanya bagi
anak normal dengan anak berkebutuhan khusus akan tetapi juga bagi kalangan
mampu dan kaum dhuafa, serta perbedaan yang lainnya. Mereka (anak berkebutuhan
khusus) dapat bersekolah dan mendapatkan ijazah layaknya anak normal. Hal ini
seperti yang dibahas diharian suara pembaruan tanggal 28 September 2005.
Hasil survey menunjukkan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia
meningkat dari 1 : 10.000 , kini menjadi 1 : 1500. Pada saat ini jumlah
merekapun terus bertambah, dengan berbagai penyebab, baik semasa dalam
kandungan ataupun masa keemasan dalam perkembangan. Menurut Susana Yuli E
seorang psikolog anak, bahwa persoalan ini bukan lagi hanya bisa ditangani oleh
dokter spesialis anak atau psikiater melainkan juga pihak keluarga dan
lembaga-lembaga pendidikan anak autis swasta/pemerintah, seperti sekolah
inklusi misalnya. Bagi orang tua yang menyadari sejak dini mereka akan
memberikan penanganan sedini mungkin. Permasalahan yang menjadi pembahasan
dalam tulisan ini adalah pada saat mereka (anak berkebutuhan khusus) memasuki
usia sekolah, kemana mereka akan menimba ilmu? Maka sekolah luar biasa (SLB)
menjadi tempat alternative bagi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka
dengan berkebutuhan khusus, mereka berada dalam satu lingkungan dan bergaul
dengan teman-teman senasib. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mereka
berhak berada di lingkungan pergaulan yang lebih normal dan riil. Hal ini
karena berkaitan dengan masa depan yang akan mereka jalani, mereka tidak hanya
berkumpul dengan orang-orang berkebutuhan khusus tetapi juga yang lain. Telah
terbukti mereka jauh lebih mampu mengembangkan potensi, jika bergaul dengan
anak-anak tanpa berkebutuhan khusus. Saat ini para orang tua yang memiliki anak
dengan berkebutuhan khusus memperoleh angin segar dengan system sekolah baru.
Sekolah inklusi, menjadi sebuah sekolah harapan untuk menumbuh kembangkan anak
secara optimal, baik bagi anak dengan maupun tanpa berkebutuhan khusus.
Sekolah inklusi merupakan sekolah reguler yang menyatukan antara anak-anak
dengan dan tanpa berkebutuhan khusus untuk mengikuti proses belajar mengajar
bersama-sama. Sistem belajar pada sekolah inklusi tidak jauh berbeda dengan
sekolah regular pada umumnya. Mereka (para siswa) berada dalam satu kelas yang
idealnya dalam satu kelas terdiri dari 1- 6 anak berkebutuhan khusus dengan dua
guru dan satu terapis atau shadow teacher yang bertanggung jawab di bawah
koordinasi guru untuk memberi perlakuan khusus kepada anak-anak berkebutuhan
khusus, sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Porsi belajar
pada anak berkebutuhan khusus lebih kecil daripada yang ‘normal’. Hal ini tidak
bertujuan untuk membatasi, melainkan kebutuhan untuk terapi. Pada waktu-waktu
tertentu, bila perlu anak-anak tersebut akan ‘ditarik’ dari kelas reguler dan
dibawa ke ruang individu untuk mendapatkan bimbingan khusus.
Pendidikan bukanlah sebuah rutinitas ujian demi ujian tanpa memandang perbedaan
kemampuan setiap individu. Inti dari sebuah pendidikan adalah memanusiakan
manusia. Demikian pula ketika anak berkebutuhan khusus dihadapkan dengan ujian
sebagai hasil evaluasi. Substansi dari pendidikan adalah untuk menjadikan
manusia yang seutuhnya, sehingga standart yang ditetapkan adalah sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki anak dan bentuk pelaporannya lebih banyak bersifat
deskriptif, narasi, maupun portofolio tidak hanya tes tertulis. Demikian pula
ketika menyangkut ujian kelulusan, dalam hal ini UAN, mereka perlu adanya
dispensasi dengan memiliki standart khusus. Menyangkut masalah UAN ini telah
disetujui oleh direktorat pembinaan sekolah luar biasa bahwa anak dengan
berkebutuhan khusus tidak perlu mengikuti UAN (Julia Maria, Januari
2008).
Walaupun pada saat ini baru terdapat 624 sekolah Inklusi di seluruh Indonesia,
dari tingkat SD hingga SMA tetapi dapat menerima anak berkebutuhan khusus di
sekolah biasa dengan program khusus. Artinya mereka dapat mengikuti kelas
biasa, namun disisi lain merekapun harus mengikuti program khusus sesuai dengan
kebutuhan dan kapasitas mereka. Mereka dapat mengikuti kurikulum biasa, namun
dengan penerapan yang disesuaikan dengan kemampuan mereka.
Pada tanggal 26-29 September tahun 2005 para pakar dan praktisi sekolah inklusi
dari 32 negara di dunia berkumpul di Bukittinggi Sumatera Barat untuk mengikuti
International Symposium on Inclusion and The Removal Of Barriers To Learning.
Dalam pertemuan ini mereka saling berbagi pengalaman mengenai sekolah inklusi
di Negara masing-masing. Dan semua masih dalam tahap mengembangkan sekolah
inklusi ( Suara Pembaruan : 28/9/2005).
Pendidikkan inklusi memang tengah bergerak progresif, namun masih banyak
ditemukan kendala untuk melaksanakannya. Dari fasilitas yang terbatas, misalnya
fasilitas program khusus, seperti ruang terapi, alat terapi, maupun sumber daya
manusia yang kapabel. Sekolah inklusi adalah sebuah metamorfosa budaya manusia
yang semakin moderen dan menglobal. Bahwa setiap manusia adalah sama, punya hak
yang sama dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan mendapatkan pendidikan
demi mengejar kehidupannya yang lebih baik.Sekolah inklusi merupakan salah satu
jawaban, bahwa pendidikan tak mengenal diskriminasi, semua berhak untuk
mendapatkannya. Perlu juga dilakukan edukasi kepada masyarakat tentang sekolah
inklusi sehingga mereka memperoleh banyak informasi sebagai alternative pilihan
untuk menyekolahkan anaknya yang kebetulan berkebutuhan khusus.
Meskipun demikian sampai saat ini, sekolah inklusi masih identik dengan
mencampur anak berkebutuhan khusus dengan anak biasa. Padahal sekolah bisa
disebut inklusi, jika kita dapat melihat anak secara individual dengan
pendekatan individual, bukan klasikal. Saat ini, pendidikan kita masih melihat
peserta didik dengan satu kaca mata, semua anak adalah sama. Padahal, setiap
anak terlahir dengan fitrahnya masing - masing. Artinya, setiap anak harus
diberi ruang dan hak untuk berkembang sesuai dengan kapasitas dan bakat yang
dibawanya. Sekolah inklusipun bisa bersesuaian dengan pendekatan kecerdasan
majemuk (multiple intelegences). Sebuah pendekatan pembelajaran yang sedang
banyak dikembangkan pula.
Harapanya akan banyak tumbuh sekolah inklusi tanpa harus terbebani dengan
segala defenisinya. Sekolah inklusi merupakan sebuah prinsip persamaan hak
manusia, dan juga jawaban dari perbedaan kita sebagai manusia. Nyatanya tak ada
manusia yang sama. Karena semua warga negara mempunyai hak yang sama terhadap
pendidikan, termasuk di dalamnya adalah anak berkebutuhan khusus. Demikian
salah satu inti yang tercantum dalam UUD 1945.
Pasal 31. Di Muhammadiyah sendiripun sudah ada beberapa sekolah yang menerapkan
system inklusi tentunya diperlukan dukungan dari semua pihak untuk
mengembangkannya lebih optimal sebagai upaya memberikan solusi kepada masalah
pendidikan di Indonesia.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - "Kecantikan itu adalah sesuatu yang
berasal dari dalam, bukan apa yang tampak di permukaan."
Itulah
pernyataan seorang Dian Inggrawati, gadis tuna rungu yang menggondol juara
ketiga ajang Miss Deaf 2011 di Praha, Ceko, Juni-Juli lalu. Prestasi Dian
langsung mendapatkan perhatian pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan
Nasional (Kemdiknas), setelah belakangan diketahui gadis berusia 27 tahun itu
merupakan alumnus siswa SMK Santa Maria Jakarta.
Direktur
Pembinaan SMK, Joko Sutrisno, Kamis (15/9), mengundang Dian bersama dengan sang
ibu, Ida Hermawan, Kepala Sekolah SMK Santa Maria, Sri Purnami Mulyaningsih,
dan seorang guru SMK Santa Maria, Margareta WD Utari. Di hadapan para wartawan
di Gedung Kemdiknas, Dian mengungkapkan kunci kesuksesannya meraih gelar
terhormat yang mengharumkan nama Indonesia tersebut.
"Saya
sejak remaja memang telah memiliki ketertarikan dengan dunia
desain-mendesain," tutur Dian yang mendapatkan sedikit bantuan sang ibu
untuk menerjemahkan kata-katanya. Hal tersebut dibenarkan oleh Utari, yang saat
SMK menjadi guru pembimbingnya di jurusan Tata Boga.
Meskipun
tergolong anak yang menyandang kebutuhan khusus, hal tersebut tak
menghalanginya untuk berprestasi. Terbukti sudah lebih dari 400 piala ia
kumpulkan mulai dari jenjang SD hingga menyelesaikan perguruan tinggi dua tahun
lalu. "Sejak jenjang sekolah dasar sampai kuliah saya memang selalu masuk
ke sekolah-sekolah normal. Semoga prestasi saya ini bisa memberi semangat
kepada saudara-saudara saya yang lain yang juga menyandang kebutuhan
khusus," ujarnya.
Meskipun
sudah dibilang meraih prestasi tertinggi, Dian tak mau berhenti sampai pada
perhelatan yang telah berlangsung selama 11 tahun tersebut. Gadis tinggi
semampai tersebut ingin mendorong rekan-rekannya sesama tuna rungu yang lebih
muda untuk mengikuti kontes yang sama tahun depan.
Selain
itu Dian juga bermimpi kelak bisa hidup mandiri tanpa mengandalkan bantuan dari
sang ibu yang tak kenal lelah. "Kelak saya ingin menjadi seorang desainer
khusus tuna rungu. Saya ingin punya butik sendiri," harapnya.
Penggemar
makanan Kwetiau itu juga baru-baru ini mendapatkan mandat Mendiknas untuk
menyelenggarakan Kongres Tuna Rungu Se-Indonesia dalam waktu tiga bulan
mendatang. "Jika acara tersebut berhasil maka Dian akan kami angkat
sebagai Duta Pendidikan Inklusi," kata Joko.
Kepada
Dian, Joko menjanjikan penghargaan atas kontribusi yang telah dilakukannya
untuk Indonesia. Jika tidak berupa hadiah, Dian rencananya akan difasilitasi
dalam mimpinya mengembangkan butik di tempat tinggalnya. "Kami akan segera
mencarikan format penghargaannya. Namun kemungkinannya adalah salah satu dari
dua opsi tersebut," tutur Joko.
Perjuangan
Dian untuk meraih penghargaan di tingkat internasional tersebut sama sekali
tidak mudah. Apalagi hidup Dian saat ini benar-benar ditopang ibunya yang hanya
bekerja sebagai penjual kue. Sang ayah sudah meninggal dunia beberapa tahun
yang lalu.
Selepas
menamatkan kuliahnya di Universitas Persada Indonesia 2009 lalu, Dian sehari-hari
aktif di Yayasan Sehat Jiwa Raga (Sehjira) dimana ia tidak mendapatkan gaji
dari yayasan tuna rungu tersebut. Namun tak dinyana, peruntungannya datang dari
yayasan yang telah berdiri sejak 2001 tersebut.
Berawal
dari informasi akan adanya kontes Miss Deaf 2011 dari Yayasan Sehjira, Dian
langsung mengumpulkan segala persyaratan yang dibutuhkan. Keberangkatannya ke
Praha 30 Juni lalu pun benar-benar mengandalkan biaya sendiri karena ia hanya
memperoleh sponsor berupa busana dari salah seorang saudaranya yang memiliki
butik.
Keberangkatannya
ke Praha pun harus menemui kendala sulitnya visa ke negara pecahan Cekoslowakia
tersebut. Sang ibu bahkan harus menginap dua hari dua malam di Kedutaan Besar
Ceko demi mendapatkan izin tinggal untuk anak pertamanya tersebut.
Cerita
berakhir dengan manis setelah Dian berhasil menempati urutan ketiga dalam
kontes tersebut. Ia berada di belakang kontestan asal Italia, Ilaria Galbusera,
yang menempati posisi pertama dan kontestan asal Rusia, Elena Korchagina, yang
menempati posisi runner-up. Prestasi yang layak dibanggakan karena ia berhasil
mengalahkan 35 kontestan lain untuk menduduki peringkat ketiga.
Prestasi
yang diperoleh Dian mengajarkan dua hal. Pertama, tiap anak—termasuk anak-anak
penyandang kebutuhan khusus—berhak memperjuangkan mimpinya. Sama seperti
anak-anak normal, Dian juga berhak melakukan hal yang disukainya. "Deaf?
No Problem!" seru Dian menirukan slogan yang dibawakannya di Ceko.
Melukis Tergantung Suasana Hati, Ingin Menjadi Pembalap Motor
Cross
Keterbatasan berbicara dan mendengar tidak membuat Indra minder
dan tidak berpretasi. Ia pernah juara nasional melukis yang diadakan Departemen
Pendidikan RI.
MUKHLASHYIN
Gerimis menguyur Kota Batu pada Jumat (30/1) pukul 10.00. Hujan
rintik itu juga membasahi halaman Sekolah Luas Biasa (SLB) Eka Mandiri di Jalan
Terusan Kasiman Kelurahan Ngaglik Kecamatan Batu.
Selama 30 menit kemudian, pada lantai dua gedung SLB,
murid-murid berhamburan keluar dari ruang kelas. Jam pelajaran telah usai. Di
antara para siswa itu, ada Indra Krisfilla, salah satu anak berprestasi di SLB
tersebut.
Indra, begitu ia akrab disapa, berasal dari Dusun Durek RT 03 RW
02 Desa Giripurno Kecamatan Bumiaji. Indra berbakat menggambar. Ia pernah
meraih juara pertama dalam ajang lomba melukis tingkat nasional yang
diselenggarakan Bidang Pendidikan Khusus – Layanan Khusus (PK-LK) Departemen
Pendidikan RI pada 1 sampai 5 Juni 2014 lalu.
Dia mengharumkan nama Kota Batu sekaligus mewakili Provinsi Jawa
Timur dalam ajang lomba melukis tersebut. Kala itu, dia didampingi oleh guru
kelasnya yang bernama Muliah. ketika mengikuti lomba, ia masih duduk di bangku
kelas empat.
Indra yang sekarang duduk di kelas lima ini mengaku senang bisa
menyingkirkan perwakilan dari 33 provinsi di seluruh Indonesia. Diakui Indra,
dia membuat lukisan dengan judul Menyelamatkan Bumi. Judul itu ia pilih karena
menurut Indra, bumi memerlukan orang-orang yang menjadi penyelamat dari
kerusakan.
”Saat itu saya gores apa adanya, kok saya yang menang,” kata
Indra yang didampingi Adi Indra Prasetyo, S Pd, guru SLB yang menerjemahkan
setiap kata yang diutarakan Indra mengunakan bahasa isyarat.
Indra menyukai dunia melukis sejak ia masih duduk di bangku
kelas satu SD SLB Eka Mandiri. Ia juga sering berlatih. Saat dia pulang
sekolah, tidak jarang dia didampingi ibunya, Sri Rahayu mengambar di sebuah
kertas gambar dan kertas folio. Ia menggunakan crayon.
Remaja berusia 16 tahun ini sering mengambar apa adanya di
rumah. Seperti mengambar mobil, kuda, dan matahari.
Indra juga terus terpacu untuk mengambar dan melukis objek
lainnya. Apalagi di sekolahnya ada penjurusan minat dan bakat menggambar dan
melukis. Pelatihan diberikan sekolahnya setiap hari Sabtu.
”Sekarang tidak setiap hari menggambar. Tergantung suasana hati.
Sebab saya masih suka main,” kata Indra.
Saat mengikuti lomba melukis, dia mengaku tidak ada sedikitpun
rasa grogi. Dikarenakan Indra sering mengikuti ajang perlombaan. Seperti lomba
di sekolah, lomba tingkat kecamatan serta lomba tingkat provinsi.
Disinggung apa cita-citanya, Indra mengatakan ingin menjadi
peternak kambing etawa. Sebab di kampungnya banyak warga yang mulai memelihara
kambing etawa. Apalagi hadiah dari setiap kali menang lomba menggambar dan
melukis, oleh ayahnya Su’i dibelikan kambing etawa.
Selain beternak kambing etawa di kampungnya, Indra mengaku ingin
menjadi seorang pembalap motor cross. Dari keinginan itu, ia sedang menabung
untuk membeli kendaraan roda dua sejenis trail. Dia ingin menyalurkan bakat
menjadi pembalap motor cross jika besar nanti. Indra bahkan ingin mengikuti
perlombaan motor cross.
”Saya terkadang jual susu kambing etawa. Uangnya saya tabung untuk beli
kendaraan trail untuk balapan,” cetus Indra bersemangat. (*/yos)
Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Sistem Pendidikan Nasional membuka jalan bagi
anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk dapat mengenyam pendidikan dengan
layak. Pendidikan inklusi secara khusus diartikan sebagai sebuah upaya
penyelenggaraan pendidikan yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan
khusus dan anak normal untuk belajar. Dengan adanya pendidikan inklusif artinya
sekolah tersebut harus mampu mengakomodasi setiap anak tanpa kecuali, baik
secara fisik, intelektual, emosional, sosial, bahasa, budaya, etnis, minoritas
dan berbagai hal lainnya. Penyelenggaraan mengenai pendidikan inklusi secara
lebih jauh terjamin dan diatur dalam Permendiknas Nomor 70 tahun 2009.
Di
Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan teritori yang telah menyadari pentingnya
penyelenggaraan sekolah Inklusi. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya
Peraturan Gubernur Nomor 21 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan
inklusif. Dalam pendidikan inklusi terdapat guru pembimbing khusus yang
diharapkan berkompetensi untuk mendampingi dan membimbing anak berkebutuhan
khusus untuk dapat lebih baik. Pelaksanaan pendidikan inklusif tidak terlepas
dari partisipasi keseluruhan tenaga pengajar yang ada di sekolah. Bahkan
di Yogyakarta setiap satuan pendidikan (sekolah) diwajibkan untuk memberikan
fasilitas bagi anak berkebutuhan khusus. Sebelumnya menurut Sekretaris Dinas
Pendidikan Kota Yogyakarta, sekolah inklusi yang ada hanya berkisar antara 22
sekolah dari total 520 sekolah jenjang SD hingga SMA[1]. Dengan adanya Peraturan Gubernur
tersebut maka peluang anak berkebutuhan khusus untuk dapat menimba ilmu di
bangku sekolah semakin besar.
Penyelenggaraan
sekolah inklusi bukanlah sebuah kebijakan yang asal-asalan. Secara lebih jauh
sekolah inklusi mengemban tugas penting dalam usaha mencerdaskan siswa dan
siswinya[2]. Sekolah hendaknya mampu mengubah sikap
dari semua elemen sekolah termasuk siswa, guru, dan orang tua. Selain itu perlu
adanya pengawasan untuk memastikan bahwa anak berkebutuhan khusus dapat
mengakses pelajaran yang diberikan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah
mengenai kurikulum yang digunakan dalam sistem pembelajaran. Kurikulum tersebut
sebaiknya mampu memperbaiki pencapaian atau prestasi akademik anak disemua
level. Selain itu dukungan dari warga sekolah juga diperlukan untuk menciptakan
iklim positif dalam sekolah inklusi.
Adanya sekolah inklusi membawa peran penting bagi anak berkebutuhan
khusus. Menurut Skjorten, interaksi yang terjalin dalam lingkup sekolah
akan meningkatkan kemampuan sosio-emosional mereka secara gradual.
Manfaat dari sekolah inklusi tidak hanya dirasakan oleh anak berkebutuhan
khusus, namun juga oleh anak-anak normal yang berada di sekolah tersebut[3]. Anak-anak normal dapat mengembangkan
kemampuan empati mereka, kemampuan bekerja sama, dan lebih bijak dalam
menerima keadaan teman. Secara umum sekolah inklusi mampu memberi kesempatan
bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat mengembangkan diri mereka. Dengan hal
tersebut maka anak berkebutuhan khusus tak lagi termarginalkan.
Smun,
Miss Dian Inggrawati Miss deaf Indonesia sudah terobsesi lahirnya TV
mOdis, walaupun hasil komunilasi liwat BB
Oleh Havid Hermanu
TV
mOdis, Miss Dian Inggrawati Miss deaf Indonesia sudah terobsesi lahirnya
TV mOdis dengan konten Smun. Untuk itu presentasi dan konsep besarnya sudah
menunggu investor.
Smun,bahan
baku unik, untuk penca¹) Membangun Imperiumnya
Menuju Penca Mandiri Yang Menyongsong Globalisasi.
Banyak disabilitas atau penca hidup bahagia berkelim pahan dengan smunnya,
seperti Nick Vujisic yang tidak punya tangan dan kaki, Sayang Petrus Bangun
(40) dengan Smunnya melukis dengan mulutnya harganya milyard. Albertha Aceng
dengan smunnya liwat kepiawaiannya main gitar dengan kaki.
Jepang
bangkit setelah bom di hirosima bukan karena sumber alamnya
tetapidengan ganbatte ganbarre ganbarru yang selalu dipekikkan jika saling
bertemu kaumnya, Ari Gynanjar bangkit dengan ESQ Way, Aa Gym bangkit
dengan Manajemen Qolbu dan Darutttohitnya, padang tandus di Mekah bangkit
dengan nilai spirit dengan Kabahnya. Disabilitas akan bangkitkan Imperium
dengan konten Smun
Smun,
Miss Dian Inggrawati Miss deaf Indonesia sudah terobsesi lahirnya TV mOdis
Oleh Havid Hermanu
TV
mOdis, Miss Dian Inggrawati Miss deaf Indonesia sudah terobsesi lahirnya
TV mOdis dengan konten Smun. Untuk itu presentasi dan konsep besarnya sudah
menunggu investor.
Bahan
Baku Unik, Untuk Penca¹) Membangun Imperiumnya
Menuju Penca Mandiri Yang Menyongsong Globalisasi.
Banyak disabilitas atau penca hidup bahagia berkelim pahan dengan smunnya,
seperti Nick Vujisic yang tidak punya tangan dan kaki, Sayang Petrus
Bangun (40) dengan Smunnya melukis dengan mulutnya harganya milyard. Albertha
Aceng dengan smunnya liwat kepiawaiannya main gitar dengan kaki.
Jepang
bangkit setelah bom di hirosima bukan karena sumber alamnya
tetapidengan ganbatte ganbarre ganbarru yang selalu dipekikkan jika saling
bertemu kaumnya, Ari Gynanjar bangkit dengan ESQ Way, Aa Gym bangkit
dengan Manajemen Qolbu dan Darutttohitnya, padang tandus di Mekah bangkit
dengan nilai spirit dengan Kabahnya. Disabilitas akan bangkitkan Imperiumnya
dengan Smun
nya
dengan Smun
Indafo
(Identifikasi natural dari fakta original)
Smun bahan baku unik, untuk penca membangun Imperiumnya menuju penca
mandiri yang menyongsong globalisasi.
Hal
prinsip yang mendasar sebagai fakta yang natural dan original yang dapat
tercatat dari ungkapan subyektif dan obyektif yaitu ada Empat hal yang disebut
sebagai Smun, Nilai, Sikap, Motivasi, Upaya, baik secara pribadi maupun secara
kolektif. Bahkan secara universal hal ini juga berlaku, tidak hanya untuk penca
tetapi untuk semua.
Namun Smun punya nilai lain / unik jika pelakunya penca. Hal ini terangkat dari
reportase Susi Ivvaty dengan ketua PPCI Siswadi yang ditulis di Kompas tahun
2002. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0206/19/naper/mema12.htm
“Kalau
orang lain bisa dan saya tidak bisa, itu wajar. Kalau orang lain bisa dan saya
juga bisa, itu satu kelebihan. Yang lebih baik lagi jika orang lain tidak bisa
tetapi saya bisa”. (kata Siswadi)
Ungkapan
ini menjadi inspirasi titik tolak paham untuk mengali potensi penca dengan
segala keterbatasannya untuk mengembangkan kemandirian penca, bahkan sangat
universal , untuk semua.
Dengan demikian penca bukan hanya sebagai obyek, tetapi juga dapat dikembangkan
sebagai subyek yang universal untuk menstimulir nilai, sikap, motivasi dan
upaya untuk semua orang.
SMUN juga dapat merupakan wilayah yang sama dapat dijangkau orang penca atau
orang tidak cacat.
Dengan fenomena ini penca dapat menjadi sebagai pelaku , sebagai narasumber
bahkan sebagai motivator unggul lewat SMUN termasuk orang tuanya, kakak/
adiknya atau suami/istrinya.
”Perlu
dicatat penca adalah barisan pertama atau juru kunci dan ahli Smun yang secara
alami mengenal perlunya kesabaran , mengenal perlunya ikhlas,mengenal perlunya
bersyukur dan banyak lagi berhubungan dengan Smun” (H.M)
Ada
banyak misteri pesan yang melekat pada penca yang perlu ”dibaca” untuk setiap
umat yang mencari hikmah dalam berusaha yang terkadang mendapat kesulitan,
menghadapi rintangan , penderitaan., ketidak sabaran, kegelisahan.
Smun dapat
digali menjadi bahan yang sangat potensial dan tidak ada habisnya , serta
diperlukan semua orang banyak sepanjang jaman.
Tidak ada ”pabrik” Smun baik didalam negri bahkan diluar negri yang sedahsyat
kalu dilakukan oleh penca atau disabilitas.
Potensi
ini menjadi bahan yang diperlukan dan dapat menjadi bahan dasar yang dapat
menumbuhkan industri multimedia, cetak, film, cyber, tv bahkan Institut serta
Imperium penca terbesar yang mengglobal.Tidak mustahil.Subhanallah. Allahu
Alam,
Penca
hadir menjadi bagian ”alat” Allah SWT untuk cermin kesadaran manusia bahwa
masih banyaknya karuniaNya yang masih tak terhitung yang perlu di syukuri (H.M)
Cermati
Jepang lebih maju bukan karena luas negaranya atau kekayaan alamnya seperti di
Indonesia. Berarti ada faktor lain yang membuat negaranya begitu maju.
Singapura bisa jadi negara makmur dengan wilayahnya yang kecil, karena dukungan
prasarana perdagangannya yang hebat berkat perencanaan pelabuhannya yang
strategis dan dalam sehingga dapat ditambatkan kapal-kapal besar.
Arab
Saudi , padang pasir, gurun sahara , Mekah, Madinah menjadi daerah maju yang
serba ada juga dari nilai lain bukan kesuburan dan keramahan alamnya.
Di
Indonesia ada Imperium yang sedang dibangun Ginanjar dengan wadah Grah 149 yang
sudah TBK , dibangun lewat ESQnya yang tersohor itu sedang membangun kantornya
16 lantai di Jl S.Parman Jakarta Selatan .
PPCI dengan segenap akses dan banyaknya pihak terkait yang mendukung akan
membangun Imperium lewat Smun , Imperium yang boleh jadi bisa lebih besar
karena dapat menjangkau lintas negara, paham dan agama, etnik, dengan jejaring
nilai konsep bisnis serta multi industri, multi ahli dan profesi dan industri
dibelakangnya. Karena penca sangat luas,universal bahkan hingga dunia hewan dan
jasad renik .
Tim Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM) Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta berhasil meraih juara
kedua dalam lomba MITI PAPER CHALLENGE (MPC) tingkat nasional yang
diselenggarakan oleh Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) pada
tanggal 8 Maret 2014. Tim UKM Penelitian UNY yang terdiri dari Erbi Bunyanuddin
(FIP/PLB), Rizki Junianto (FT/Elektro), dan Muhammad Nur Huda (FT/Elektro),
mengangkat karya mengenai Portable Speech Trainer Mirror untuk
anak tunarungu agar mampu meningkatkan kemampuan bahasa mimik mereka. “Media
yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak tunarungu masihlah
minim, untuk itu kami berusaha untuk membuat media yang dapat memudahkan anak
tunarungu berlatih berkomunikasi,” ujar Erbi.
Miti Paper Challenge
merupakan ajang bergengsi bagi mahsiswa Indonesia. Ajang ini mengangkat tema
“Inovasi IPTEK dalam pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal sebagai basis
ekonomi kerakyatan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia”.
Tema ini mengacu pada potensi alam Indonesia yang sangat besar untuk
dikembangkan di tengah derasnya globalisasi. Potensi yang besar ini belumlah
digarap serius, untuk itu dengan adanya lomba ini diharapkan potensi yang belum
muncul atau belum terpublis dapat dikembangkan dan menjadi andalan bangsa
Indonesia dalam meningkatkan kemampuan ekonomi.
Lomba ini memiliki persaingan yang sangat ketat.
Dari 145 proposal karya yang mayoritas dari universitas-universitas favorit
Indonesia hanya 10 finalis yang berhak untuk maju dalam tahap berikutnya yaitu
tahap presentasi. Dan akhirnya tim UKM Penelitian UNY mampu menjadi juara ke-2.
Miti Paper Challenge merupakan serangkaian acara dari Gebyar Inovasi Mahasiswa
Indonesia (GIPI) yang diselenggarakan di gedung Graha Sabha Pramana,
Universitas Gadjah Mada, pada tanggal 8—9 Maret 2014. (erbi)
TEGAL, KOMPAS.com — Petenis Korea Selatan, Duck Hee Lee (ATP 470), memenangi gelar juara
tunggal Indonesia Men’s Future Walikota Tegal Open 2015, Minggu (12/4/2015).
Pada laga final yang berlangsung di lapangan
tenis GOR Wisanggeni Kota Tegal, unggulan keempat itu menumbangkan unggulan
kedua asal Jepang, Shuichi Sekiguchi (396), 6-1, 3-0 ret(retired,
lawan memutuskan mundur).
"Saya gembira hari ini karena bisa meraih
gelar juara di Tegal. Saya telah menampilkan permainan terbaik, tetapi sayangnya
Sekiguchi sedang memiliki permasalahan dengan kondisi badannya," tutur
Lee, yang terlahir tunarungu di Chungcheong pada 29 Mei 1998 ini, seusai
kejuaraan dalam rangka ulang tahun ke-435 Kota Tegal, Jawa Tengah, ini.
Sebagai juara, Lee yang kini berada di peringkat
ketujuh yunior dunia berhak mendapatkan hadiah sebesar 1.440 dollar AS atau
sekitar Rp 19 juta. Sebagaimana petenis lainnya, dia akan melanjutkan kiprahnya
menuju seri penutup Indonesia Men’s Future di Jakarta, 13-19 Mei. "Saya
berharap bisa kembali meraih gelar juara," kata Lee yang telah mengantongi
tiga gelar juara tunggal turnamen ITF Pro Circuit kategori Men’s Future.
Sementara itu, sebagai rangkaian akhir turnamen
yang digelar PP Pelti, Indonesia PGN Men’s Futures 2015 telah memainkan babak
kualifikasi mulai Minggu (12/4/2015) di lapangan tenis Elite Club Epicentrum,
kawasan Rasuna, Jakarta. Babak utama bakal berlangsung sejak Selasa
(14/4/2015).
Dua petenis anggota pelatnas SEA Games 2015,
Christopher Rungkat dan David Agung Susanto, melenggang langsung ke babak utama
berkat peringkat dunia yang dimilikinya. Sementara itu, dua petenis nasional
lainnya, Aditya Hari Sasongko dan Sunu Wahyu Trijati, harus menggunakan
fasilitas wild
card.
Bahasa Isyarat adalah bahasa yang
mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh,
dan gerak bibir,
bukannya suara,
untuk berkomunikasi.
Kaum tunarungu adalah
kelompok utama yang menggunakan bahasa ini, biasanya dengan mengkombinasikan
bentuk tangan,
orientasi dan gerak tangan, lengan, dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk
mengungkapkanpikiran mereka.
Bertentangan dengan pendapat banyak orang,
pada kenyataannya belum ada bahasa isyarat internasional yang sukses
diterapkan. Bahasa isyarat unik dalam jenisnya di setiap negara. Bahasa
isyarat bisa saja berbeda di negara-negara yang berbahasa sama.
Contohnya, Amerika Serikat dan Inggris meskipun
memiliki bahasa tertulis yang sama, memiliki bahasa isyarat yang sama sekali
berbeda (American Sign Language dan British Sign Language).
Hal yang sebaliknya juga berlaku. Ada negara-negara yang memiliki bahasa
tertulis yang berbeda (contoh: Inggris dengan Spanyol),
namun menggunakan bahasa isyarat yang sama.
Untuk Indonesia,
sistem yang sekarang umum digunakan ada dua sistem adalah BISINDO (Berkenalan
Dengan Sistem Isyarat Indonesia) yang dikembangkan oleh Tuna rungu sendiri
melalui GERKATIN (Gerakan Kesejahteraan Tuna rungu Indonesia) dan Sistem
Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) hasil rekayasa orang normal bukan
hasil dari Tuna rungu sendiri yang sama dengan bahasa isyarat
America (ASL - American Sign Language). Jadi saya sarankan
memakai sistem isyarat buatan tuna rungu sendiri adalah BISINDO
Cita-cita menjadi wakil rakyat di
Senayan sekarang bisa terbuka bagi siapa saja di Indonesia setelah pemerintahan
kita mengadopsi sistem bikameral, sistem 2 kamar,dengan keterwakilan individu yang
lepas dari wakil Partai seperti layaknya anggota DPR. Meskipun begitu sebagai
calon anggota senator ,kepopuleran tetap memegang peranan penting untuk
mendapatkan suara di Provinsi dimana dia bertarung.Tulisan ini saya dasarkan
pada pengalaman teman saya ketika mencoba peruntungannya dengan maju menjadi
calon anggota DPD mewakili Provinsi
DKItahun 2009 kemarin. Hanya saja karena tingkat
kepopuleran dan modal yang minim akhirnya temanku kalah suara.
Pertanyaan paling dasar sebelum maju haruslah didasarkan wilayah
administrasi dimana kita mencalonkan diri.Taruhlah misalnya saya maju
dari Provinsi DKI Jakartayang
terbagi menjadi 6 wilayah administratif. Dari 6 wilayah tersebut bagaimanakah
tingkat kepopuleran calon senator dimata konsituen? Apalagi Provinsi DKI Jakarta sebagai
ibukota negara,meskipun secara wilayah geografi lebih kecil dibanding provinsi
lain tetapi pertarungan politik nasional benar-benar diuji di Jakarta.Dan alat kampanye apa yang akan saya gunakan
agar saya bisa memperoleh suara yang cukup agar bisa menjadi anggota DPD RI mewakili Provinsi DKI Jakarta.
Gambar.1 Jembatan
Penyeberangan Busway di DKI Jakarta dirancang untuk kaum difabel pengguna
kursi roda.
Bila saya terpilih menjadi senator menggantikan anggota DPD RI 2019-2014,
maka saya akan menggalang dukungan dari kaum disabilitas bahwa,sudah
saatnya kaumdifabel dihargai
hak-haknya, tidak seperti gambar 1 diatas,sebuah tempat layanan umum yang seharusnya
dirancang untuk memenuhi kebutuhan kaum difabel yang
terpaksa menggunakan kursi roda,dalam kenyataannya jembatan tersebut disalahgunakan
untuk penyeberangan sepeda motor.
Sudah seharusnya DPD sebagai
lembaga tinggi negara kedepannya mau membuka pintu bagi keterwakilan dari
kaum difabel itu sendiri, seperti Parlemen di Eropayang
dengan rendah hati mau memberikan kursi parlemen bagi kaumtunarungu.Simak video berikut.
Anggota Parlemen Uni Eropa dari negara Hongaria MEP Ádám Kósa.
Anggota Parlemen Uni Eropa dari negara Hongaria MEP Ádám Kósa.
Tidak hanya demi memenuhi kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen,
sudah saatnya parlemen dalam hal ini DPD RI juga
mulai mau membuka pintunya bagi suara-suara kaum disabilitas agar masalah diskriminasi terhadap orang-orangdifabel bisa dikurangi. Salah satu contoh kampanye
gerakan #pitabiru di
jejaring sosial untuk kepedulian terhadap penyandang disabilitas yang
dipelopori Angkie Yudistia.
Gambar 2.Angkie Yudistia dan Cover Bukunya "Perempuan
Tunarungu tanpa Batas" yang baru-baru ini diluncurkan di Ciputra World
Marketing Gallery, Jakarta, Selasa (20/12/2011) lalu
Gerakan Sosial #PitaBiru yang
dipelopori Angkie Yudistia bila
tanpa diwakili suaranya di DPD RI niscaya
gaungya tidak akan membesar dan menjadi kepedulian bagi semua pihak di
Indonesia, bahwa masih banyak kehidupan diskriminasi yang dialami
oleh kaum difabel di Indonesia.
Sudah saatnya parlemen Indonesia ,baik
itu DPR RI,DPD RI dan MPR RI mau
memberikan kursinya pada orang-orang difabel yang
memiliki kebutuhan khusus sehingga pembangunan di negara kita semakin peduli
terhadap penyandang disabilitas. Sehingga misi pemberdayaan teman-teman
penyandang disabilitas di Indonesia bisa
lebih bergema keseluruh wilayah Indonesia.
Dan saya lebih senang bila suatu saat, ada orang
seperti Angkie Yudistia duduk
di parlemen mewakili suara, orang-orang berkebutuhan khusus di Indonesia. Andai
hal itu bisa terjadi negara kita,bukan karena lomba Blog dan Twit Andai Saya
menjadi anggota DPD RI, maka Indonesia adalah negara ASEAN pertama yang
memiliki senator dari kaum difabel. Penyandang
disabilitas rungu wicara sebagai warga negara mempunyai kedudukan, hak dan
kewajiban yang sama dengan warga negara yang lainnya dalam memperoleh tingkat
kesejahteraan sosial dalam segala aspek kehidupan dan penghidupannya. Pada
hakikatnya mereka memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk mengatasi
hambatan agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya.
Berkenaan dengan itu, pemerintah dalam hal ini PSBRW “Melati” Bambu Apus
Jakarta Timur melaksanakan upaya mengembangkan potensi yang dimiliki para
penyandang disabilitas rungu wicara (anak binaan/penerima manfaat) agar dapat
hidup produktif dan dapat mengembangkan fungsi sosialnya, yaitu berkarya dan
berprestasi, karena dibalik kekurangan mereka memiliki suatu kelebihan.
Penerima manfaat PSBRW “Melati” Bambu Apus telah menorehkan tinta emas dengan menjuarai renang dan bola voli pelajar berkebutuhan khusus se- DKI Jakarta 2013 diselenggarakan oleh Dinas Olah Raga dan Pemuda Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Lomba renang dilaksanakan pada tanggal 28 s/d 30 Oktober 2013 bertempat Di Kolam Renang Gelanggang Remaja Kota Administrasi Jakarta Timur. Adapun anak-anak binaan/ Penerima Manfaat di PSBRW “ Melati” Jakarta yang mendapatkan Juara :
Penerima manfaat PSBRW “Melati” Bambu Apus telah menorehkan tinta emas dengan menjuarai renang dan bola voli pelajar berkebutuhan khusus se- DKI Jakarta 2013 diselenggarakan oleh Dinas Olah Raga dan Pemuda Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Lomba renang dilaksanakan pada tanggal 28 s/d 30 Oktober 2013 bertempat Di Kolam Renang Gelanggang Remaja Kota Administrasi Jakarta Timur. Adapun anak-anak binaan/ Penerima Manfaat di PSBRW “ Melati” Jakarta yang mendapatkan Juara :
1.
Sahat
Martua S : Juara I Gaya Bebas 100 m Kelompok
Umum, Juara I Gaya Dada 50 m Kelompok Umum
2.
Antonius
Ronald Wayai : Juara I Gaya Bebas 100 m Kelompok Umum, Juara II Gaya Dada
50 m Kelompok Umum
3.
Adityanugraha
: Juara I Gaya Bebas 100 m kelompo umum, Juara II Gaya Bebas 50 m
Kelompok Umum
Sedangkan
untuk lomba bola voli dilaksanakan pada tanggal 6 s/d 9 Nopember 2013 dalam
rangka Kejuaraan Bola Voli Tuna Rungu Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013 bertempat
di Gelanggang Remaja Jakarta Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Olah Raga
dan Pemuda Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Anak-anak
binaan/ Penerima Manfaat di PSBRW “ Melati” Jakarta mendapat
Juara I Putra dengan Tim yang terdiri dari : Nasrudin, Angga Saputra, Alamsyah, Dwi Septi Nugroho, Sahat Martua S, Adityanugraha, Antonius Ronald Wayoi, Ade Irawan, Hary Ramadan dan M. Saifullah Azis.
Kejuaraan Bola Voli diatas diikuti oleh:
1. NPC Provinsi DKI Jakarta. 6. PSBRW. Melati Bambu Apus Jakarta
2. Porturin Provinsi DKI Jakarta 7. SLB Santi Rama
3. Porturin 5 wilayah Provinsi DKI Jakarta 8. SLB Pangudi Luhur Jakarta
4. Gerkatin 5 wilayah Provinsi DKI Jakarta 9. IKALA
5. Sehjira Provinsi DKI Jakarta. 10. IKAZIA
Sebagai Pelatih, Pembimbing, Pengajar, Pendamping, Pengasuh, Orang tua dan Wali merasa bangga akan keberhasilan anak-anaknya mencapai suatu prestasi yang gemilang. Jangan menyerah anak-anak ku berjuang dan kerja keras lah untuk menggapai prestasi dan cita-cita mu.
Semoga kalian lebih sukses dan mandiri amin……….
*)
Staf Rehsos PSBRW MelatiJuara I Putra dengan Tim yang terdiri dari : Nasrudin, Angga Saputra, Alamsyah, Dwi Septi Nugroho, Sahat Martua S, Adityanugraha, Antonius Ronald Wayoi, Ade Irawan, Hary Ramadan dan M. Saifullah Azis.
Kejuaraan Bola Voli diatas diikuti oleh:
1. NPC Provinsi DKI Jakarta. 6. PSBRW. Melati Bambu Apus Jakarta
2. Porturin Provinsi DKI Jakarta 7. SLB Santi Rama
3. Porturin 5 wilayah Provinsi DKI Jakarta 8. SLB Pangudi Luhur Jakarta
4. Gerkatin 5 wilayah Provinsi DKI Jakarta 9. IKALA
5. Sehjira Provinsi DKI Jakarta. 10. IKAZIA
Sebagai Pelatih, Pembimbing, Pengajar, Pendamping, Pengasuh, Orang tua dan Wali merasa bangga akan keberhasilan anak-anaknya mencapai suatu prestasi yang gemilang. Jangan menyerah anak-anak ku berjuang dan kerja keras lah untuk menggapai prestasi dan cita-cita mu.
Semoga kalian lebih sukses dan mandiri amin……….



















.jpg)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar